Archive

On Thought of Human

Well, it was quiet a time actually when I wrote this sort of letter and send it to one of Foundation which held an annual essay competition. It was such a surprise when they gave me the first runner up place back there. Ah, if you go the the link, you could read another great opinion across the country about what does actually they feel about being tolerant in our democracy life. Hope you could give me another opinion or ideas after reading this one and we definitely could have an interesting discussion ahead. See you!


Surakarta, 14 Juni 2014

Kepada Presiden Negeriku yang Damai,

di Istana.

Salam sejahtera bagi kita semua, Bapak Presiden yang saya hormati. Apa kabar, Bapak? Semoga Bapak senantiasa dalam lindungan Tuhan dan alam semesta. Sebelum saya menguraikan kata-kata yang semakin panjang dan rumit, izinkan saya untuk mengucapkan selamat atas tepilihnya Bapak untuk menjadi pemimpin negeri kita yang damai untuk lima tahun mendatang. Semoga, kedamaian tak akan pernah pudar dari negeri kita yang semakin sering menjadikannya sebatas visi tanpa apresiasi― lebih-lebih realisasi ini.

Bapak, mungkin surat saya bukan untaian saran yang dapat membawa perekonomian negara kita menjadi lebih maju. Tak juga sebuah ide yang mampu membalikkan kesejahteraan negara kita yang konon gemah rimah loh jinawi ini menjadi bukan mitos belaka. Bukan pula tentang bagaimana cara meningkatkan nilai tukar rupiah di mata asing, yang saya tahu semakin hari semakin membuat Bapak menjadi pusing.

Lewat surat ini, saya hanya ingin bercerita, Bapak. Bercerita tentang manusia dan dunianya. Bercerita tentang hati dan nyawa yang mungkin terabaikan karna jeritannya dibungkam, sementara yang lain berusaha untuk menutup mata dan telinga. Kalau boleh, saya ingin mengajak Bapak untuk menoleh ke masa lalu. Mungkin waktu bukan lagi menjadi saksi bagi rintihan sebagian rakyat yang telah Bapak berusaha yakinkan dan janjikan. Waktu kali ini adalah sebagai jembatan agar Bapak nantinya, di waktu istirahat malam Bapak ―yang mungkin hanya beberapa jam saja― dapat berkunjung dan mendengar kembali apa yang berusaha diteriakkan sebagian rakyat ini. Sebagian dari jutaan dan sebagian dari keberagaman.

 Minggu25 September 2011 , pukul 11.00 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Bom di Gereja Betel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Tegalharjo, Jebres, Solo menewaskan satu orang pelaku dan 10 orang luka-luka. Bom terjadi pukul 11.00 WIB saat jemaat meninggalkan gereja seusai menjalankan ibadah kebaktian minggu.

 

Minggu, 26 Agustus 2012

Sejak tanggal 26 Agusutus 2012, warga Muslim Syiah diungsikan kembali ke gedung Olah Raga kabupaten Sampang sejumlah 72 KK yang terdiri dari orangtua dan anak-anak hidup mengenaskan dengan nasib tidak menentu. Sejak masa pengungsian, sudah 3 (tiga) kali mereka dengan rentang waktu yang berbeda tidak diberi makanan, air minum dan kebutuhan MCK. Pemerintah Kabupaten Sampang beralasan pemerintah kehabisan dana (http://www.portalkbr.com/berita/nasional/3177327_4202.html)

 

Bapak Presiden yang saya hormati,

mungkin Bapak tak lagi asing dengan kejadian-kejadian di atas. Ketakutan dan ancaman yang seolah tak hentinya mengintai bahkan di sela kedamaian yang tengah dicari. Atau bahkan Bapak sempat mengunjungi para pengungsi yang diusir dari tanah kelahirannya karna dianggap menjadi duri dalam daging bagi sesamanya sendiri. Di tanah yang katanya menjunjung demokrasi, di bumi yang berfrasa Ketuhanan Yang Maha Esa ini.

Bapak, jika diperbolehkan untuk bercerita, saya adalah salah satu dari sedikit orang yang mungkin menjadi saksi betapa agama telah dijadikan alat propaganda penghancur yang bisa didapat dengan mudahnya di republik ini. Pancasila yang diajarkan semasa saya duduk di bangku sekolah pun terasa makin jauh rasanya bila saya melihat bagaimana frasa-frasanya seolah hanya dijadikan pedoman tanpa pemahaman dan pengamalan. Iya, Bapak, Minggu, 25 September 2011 lalu, saya adalah seorang siswi yang sedang berada di sebuah institusi pendidikan yang hanya berjarak 500 meter dari sebuah tempat ibadah yang awalnya dipenuhi kehikmatan, tetapi  menjadi rintihan dan ketakutan di siang harinya. Rintihan yang memporak-porandakan pemahaman saya bahwa negeri ini telah benar-benar bebas dari segala bentuk penjajahan. Tahukah Bapak apa yang setelahnya dikatakan orang-orang? Tahu kah Bapak apa yang mulai diprasangkakan? Yang diperjuangkan bukan lagi cara agar bagaimana tak lagi ada ribuan polisi dikerahkan untuk menjaga saat misa dari ancaman ledakan ketakutan, agar tak terdengar lagi sirine-sirine kecemasan yang mengintai ketika tiap-tiap kita mencoba menjadi hamba. Yang dicari, sayangnya, justru mata seakan secara otomatis mengarah pada golongan dan kaum apa yang tak akan segan melakukan peneroran.

Bapak,

hancur nurani saya ketika saya membaca bagaimana saudara-saudara saya di seberang sana ―yang katanya telah melakukan penyimpangan― dicabik hak dan hidupnya.  Dilukai hatinya, diperas air matanya. Tak tanggung-tanggung, diusir pula mereka dari tanah moyangnya bersama harta dan tawa yang tak lagi ada. Jika fitrah seorang manusia adalah suci, tetapi mengapa saudara-saudara saya ini yang dikatakan bersalah justru semakin dipersalahkan, dinodai tanpa tahu apa yang sebenarnya mereka harapkan? Tanpa berusaha memahami apa yang mereka pahami, tanpa mau tahu apa yang mereka tahu. Mereka menjadi pengungsi ke tanah yang tak mereka kenal apa dan siapa. Mereka mengungsi bukan untuk mencari pertolongan, mereka mengungsi karna justru tak ada lagi pertolongan yang mampu mereka harapkan selain kepada satu-satunya keyakinan yang justru karna itulah mereka didorong pergi bagai bakteri. Sampai saat ini, tak bisa saya pahami mengapa yang katanya salah justru makin di persalahkan, tak dicari alasan kesalahan, padahal hati dan perasaan sama-sama mencari suatu bentuk kebenaran.

Bapak Presidenku,

Saya akui, saya sebelumnya hanyalah seorang pelajar yang mengetahui Pancasila dari buku teks Pendidikan Kewarganegaraan belaka, dari pidato saat upacara bendera, dan juga ―kalau boleh saya tambahkan― dari untaian kata yang Bapak janjikan tentang penegasan Pancasila sebagai dasar negara di waktu saat masa kampanye lalu. Bahkan tak pernah saya sadari bahwa demokrasi negeri ini ternyata demokrasi yang bisa dicederai oleh apa yang dikatakan sebagai “kemayoritasan”. Bapak, jika demokrasi adalah kesataraan, jika demokrasi adalah bagaimana suatu negara dijalankan, kenapa masih juga kami di kotak-kotakkan? Kenapa kami harus meyakini apa yang tidak kami yakini hanya untuk sekedar mempermudah apa yang dikatakan sebagai pemetaan dan petatah-petitih soal kemudahan pendataan dalam perkawinan? Apakah negara ini hanya mengurusi siapa yang kawin dan apa yang pasangannya yakini agar pemerintah tak lagi pusing mengatur surat dan ijab? Bapak, haruskah kami selalu diingatkan yang mana minor dan mana yang mayor, yang mana yang diakui yang mana yang tidak, opsi keyakinan macam apa yang bisa diisikan dalam kolom di e-KTP berdasarkan keenam opsi yang negara amini? Mungkin, jika ingin menghela napas sejenak, negara ini sepertinya lupa jika frasa pertama dalam dasar negara tak akan bisa terwujud tanpa empat frasa lainnya. Alpa akan adanya relung-relung kosong keyakinan yang bisa diselipi oleh momok-momok keegoisan berbatas ketidak pahaman. Lalai jika kata “Esa” bukan seharusnya menjadi pembatas dalam cara, tetapi justru ia menafsirkan tentang tujuan yang sama. Tujuan tentang kedamian dan kesejahteraan tanpa memandang dari mana masing-masing kami berasal, apa yang kami yakini dan percayai, dan lebih-lebih tentang seberapa besar jumlah kami.

Bapak, jika kita mau untuk sedikit saja meluangkan waktu untuk lebih mengenal dan memahami tentang perbedaan, tentulah akan kita temukan pemahaman bahwa manusia memang bukanlah seharusnya diseragamkan sesuai akan apa yang diyakininya, dikotak-kotakkan dan diberikan label A dan B. Sampai ketika mereka mencoba untuk menjalin kedamaian dengan manusia berseragam lain, yang muncul hanya ada prasangka serta kecemasan tak berdasar belaka. Diskriminasi muncul karna kita justru mengabaikan perbedaan itu sendiri. Mengesampingkan dan menganggapnya sebagai salah satu penyebab kehancuran, tanpa tahu bahwa perbedaan memanglah suatu hal yang kodrati dan seharusnya dihargai.

Bapak, bukan kah toleransi ada karna adanya perbedaan itu sendiri? Bukan kah seorang manusia bisa menjadi seseorang yang utuh ketika dapat memanusiakan manusia lainnya di antara perbedaan yang ada? Jika kita ingin sama-sama jujur, Bapak tentu lah juga sadar bahwa toleransi selama ini hanya disebut dalam buku diktat belaka. Toleransi seolah menjadi suatu sikap yang ditutupi. Kami, sebagai seorang pelajar, tidak dihadapkan dengan fakta bahwa memang ada diskriminasi-diskrimasi yang terjadi di lingkungan kami, ketidak adilan yang nyatanya masih juga muncul di sela-sela demokrasi, dan berbagai aniaya akan hak hakiki. Diskriminasi seolah masih dianggap mitos ketika bayangannya makin lama makin melingkupi. Jika tak ingin lagi adanya perpecahan dan kerusakan, bukakanlah nalar dan hati kami lewat pendidikan yang Bapak janjikan akan membawa kesejahteraan. Pendidikan yang memang mengungkapkan kenyataan dan membuat kami berpikir tentang solusi, tak lagi berkutat tentang siapa yang melakukan dan dari golongan apa yang bisa dipersalahkan. Pendidikan yang mengangkat toleransi untuk sama-sama dirasakan, pendidikan yang tak dibatasi bahwa keyakinan hanyalah sebatas 6 agama yang diakui negara tanpa berpikir tentang nurani, dan pendidikan yang mau saling memahami perbedaan, bukan justru saling tak mengacuhkan.

Bapak Presiden yang Terhormat,

sekali lagi dalam surat ini, saya berharap, bahwa kita dapat bersama-sama mewujudkan suatu negeri yang tak lagi sebatas mimpi tanpa diskriminasi. Negeri yang dapat menjadikan toleransi sebagai napas kehidupan sehari-hari, bukan hanya sebuah misi dalam kampanye setelah reformasi. Saya menegrti bahwa toleransi tak akan terwujud bila hanya Bapak yang bekerja, tetapi saya yakin, jika Bapak dan kita bersedia untuk mewujudkan suatu kontrak sosial demi pembangunan kesejahteraan bersama, tentu diskriminasi tak akan lagi menghantui kita. Saya rasa cukup sekian kata-kata yang dapat saya haturkan, semoga Indonesia tanpa diskriminasi tak akan lagi menjadi mimpi dan ilusi.

 

Salam hormat,

 Rakyat Indonesia yang rindu akan toleransi

You are sitting at a favorite coffee-shop of yours. None of companion you have, only a novel which has caught your attention for the whole week. Then, you just realized that the room is almost full of people. It is Friday night so it would be unsurprising if most of them mingle and have a loud conversation —and somehow, you feel the unexplained feeling that make you smile even there is no one you can share it with. Or, in the other corner of the room, you will see a girl who tries to flirt with the one of football players next her table. Subsequently, on the other Friday night, you will see the same girl sits with the boy she tried to flirt with. The boy holds her hands and they are vividly looked like a new love-bird. You assume that they finally have figured something out about them while you are still with your latte and another book. And yet here too, the anonymous crowd gives you an enchanting feeling of your solitude.

Such an irony it is when you actually could see the things clearly when you are all by yourself. Being a zoon politicon ―as Aristotle once said as the basic shape of human being ― to go socialize with others might not be as beneficial as its seem. This post is actually going to be my kind of personal note instead of such an enlightenment phrases or so. Because some people might enjoy their time alone while others might enjoy any thought with their companion―even with the strangers (I will choose the first one, though).

1) “Sometimes the choice is easy, but the consequences are painful.” —Alice Koller

Let us all admit it that we do need time to rethink our decision we had. Being solitude sometimes will give us the time to  re-embrace all the pain we tried to conquer and the happiness we merely spent. I, myself, would love to go some places where I don’t even know the exact way to go. Because the point is actually not to go to the place, but some traffic jam and the people around to keep me sane while I’m trying to take decision without any interruption which someone could give. Having some discussions with the people who are capable in their field —and mostly you will trust them in the very first place— are lovely of course, yet what is so fun for never taking the wrong decision in your life and solving the problem by your own? As Koller has said in her book, the pain in every choice sometimes would be the unbearable one, just like any other consequences in every decision. Because, my dear, isn’t it something that make a human human to take a decision and sometimes, to regret it?

2) You do have the time to explore your mind and not become the spoiled creature one.

If you ever observe and feel wonder about how God perfectly created the universe even for the tiniest thing you barely see, you are actually on the right track. The explosion of curiosity which has been powerfully developed by our renaissance era thought us those things we see are not actually the same as what our lenses describe it. The Big Bang theory which is described as our universe birthday and also the notion of “The Flat World” and the geocentric model which have been believed for centuries indeed influenced our early scientist to reveal the truth. Being the center of anything once made human thought that there was no actually any possibility for other postulates ahead but the post-dead life which frankly declared toward the society.

Our descendants who made assumption to make a brighter life by using their imagination about their surrounding have taught us to keep the light through the books and any possible things they could have made. But now, in our incredibly awesome —or frightening— medias and technologies,  where we barely see no boundaries around, how come that we still only describe the world(s) as something we just could only see with our naked-eyes and the lens of our phone? Being the spoiled creature, no?

I always hate it when there are actually so many things about the unknown knowledge which I have never heard. I do take my time to think about it. Having such a time to explore my curiosities and recklessly arranging theories—even the lamest one, then, doubting anything I assume without proof. Being alone do give me the time to recognize about the questions I try to find out the answers and about every secret the world hides from me.

Favim.com-36790

 

3) Because it is okay to take the time to take pity on yourself.

Well, may be not so many people take their time to what I call as a remembrance-that-you-are-still-a-human moment. I used to think that I was strong enough to do or take any risk. Not that I am not, yet, to show your weakness and feelings aren’t a sin. You probably find yourself gathering around with people who make you hardly smile. Or, you did something which made you regret and even further, you thought that you could do nothing and being the useless one. It is okay for me to take those kind of time. To regret, to take pity on yourself, and  to clearly think again what we have done before.  I did once or twice, though. All and all, not to boast around, for the nineteen years of my life I feel that I always bravely take every the consequences of my decision. Yet, the pain and the one which was particularly hurt me the most was actually when I couldn’t forgive myself for taking the wrong decision. As simply as remembrance my dear, you always have the time to forgive yourself for anything you couldn’t perfectly do and to rethink again anyone whom you barely could make them smile.

4) You are in a blissfully unending dialogue.

Some people think that the most romantic thing is when you could finally meet someone—or soulmate(?)— who entirely knows and understands what you think and what you want. Period. I don’t say that it is such a wrong conception, but I just can’t stand with it. I believe that this is actually the point of having any relationship between human is to learn each other perspectives and to communicate what we actually think is something what supposed the relationship fights for. Yet, is the communication between two heads or hearts briefly enough to solve the problems ahead?

Human and all their adorable mindsets have showed us for centuries that desire, passion and thought undoubtedly COULD change the world. Let’s see Soekarno, Hitler, Shakespeare, Kartini, Kennedy and other great persons we had.  The unending and a lifetime dialogue with their own-self to reflect what their inner voice wanted did showed the result. A great communication skill —through the words, pictures or any possible ways— is one of the factor why people I mention above are being the inspirational one for those who admire them. Dear my friends, I bravely assume that Soekarno did an awesome job not just because he could describe what Pancasila was to PPKI back there. But, he actually knew what Indonesia needed, what he really wanted to do, and what kind of possible way he could take. He knew who he was and such a brave himself to show his ideas. Remember when Soekarno was in exile and sat down under the Sukun tree and tried to propose our  Pancasila? Isn’t it beautiful to let yourself  and your mind wander around, have a peaceful time and do have an unending dialogue with your own? And isn’t it enchanting to finally feel grateful for the absence of others and recognize the presence of yourself?

At the end of all, it is all your decision to take what kind of way you will take to get to know anything you want to know better. Being solitude or with the peers, it is all you who will learn.

***

(P.s: I am really getting into this series lately and waiting for another session. If you look for any interesting topic or want to know about our great descendant, you may take the time to enjoy it like I do.)

First thing first, this is actually not my very first writing on either webspace or blog. I have ever written down some of my thought on another blog of mine. Yet, I just realized that it would be quite fun if I finally could make my short-of-classy-but-simple and more compatible writing on this site (not that the other site is not). Hey, if you ever happen to wander around, I my self, also have a different site where I in odd moments take my time to just sit down in my lovely room at night and take a piece of paper (Okay, I lied. I’ve never done it. I usually take my phone instead to take an instant note. I just pretend to be sounded like a chic poetess) then transfer it into my another site which clearly most of them are fiction. So, what can I say then? Hope you could read what my brain has thought ―and others too― so you could feel the exact feeling when you cuddle on your bed and blanket before having a nice dream on a such though night of yours. Or you may want to feel the anxiety in my mind instead, then you frankly ask to your self to think about the same thing I have but end up with another opinion (I will glad if you want to share it with me, though). So I guess that is the end of my preface, hope to see you soon on another braingasm thing! Chao!